Sunday, November 30, 2008

MENGUKUR GULA DARAH

Diabetes merupakan momok untuk banyak orang yang menderitanya. Sayang sekali, sebagian besar tidak menyadarinya. Bahkan mungkin lebih dari 80% penderita diabetes, kadar gulanya dalam darah tidak terkontrol dengan baik. Padahal, mereka terancam hari tua yang tidak menyenangkan, karena berbagai komplikasi akan terjadi bila kontrol jelek. Sebut saja gangguan penglihatan, fungsi ginjal buruk dengan kemungkinan cuci darah, luka yang tidak bisa sembuh dan berakhir dengan amputasi anggota tubuh, kemunduran kesehatan pada umumnya, dsb. Bagaimana mengontrol sendiri kadar gula dalam darah sambil tetap memperoleh regimen pengobatan dokter ?
1. Hal yang terpenting dan harus disadari bahwa tidak ada cara lain daripada mengendalikan diri terhadap makanan manis. Pengobatan apa dan berapa pun tidak akan berhasil jika kita tidak bisa mengontrol masukan makanan.
2. Gerak badan dan menjaga berat tubuh tidak berlebih, mengurangi lemak di perut dan bagian lain.
3. Untuk verifikasi, ukur kadar gula setidaknya 1 bulan sekali, dan apabila diperlukan bahkan dapat satu sampai dua minggu sekali untuk menilai apakah upaya kita sudah berhasil.
Target pengobatan diabetes ialah untuk mencapai kadar gula darah yang normal (atau mendekati), tanpa terjadi hipoglikemia. American Diabetic Association (ADA) tahun 2000 telah menetapkan patokan nilai gula darah untuk menjamin minimalnya risiko komplikasi diabetes. Ini agar kita bisa menikmati hidup seperti orang normal tanpa dihantui oleh komplikasi. Kriteria itu menyebutkan, kadar gula puasa berada di antara 80 - 110 mg, dua jam sesudah makan harus di antara 100 - 140mg%, sedangkan glikoHb harus di antara 6 - 7%. Yang disebut terakhir ini paling menentukan dan berhubungan erat dengan adanya komplikasi. GlikoHb yang disebut juga HbA1c mencerminkan kadar gula selama 2 - 3 bulan terakhir dan merupakan persentase kadar gula dalam sel darah merah (yang masa hidupnya memang tiga bulan). Maka parameter ini mencerminkan kontrol gula selama 2 - 3 bulan terakhir. Dengan alat kecil untuk mengukur kadar gula sendiri di rumah, pengontrolan ini dapat dilakukan meski tetap di bawah pengawasan dokter Anda.
Pengaturan dosis obat di rumah sakit sering dalam suasana artifisial, padahal di rumah cara hidup sangat berlainan. Benchmark ini merupakan standar yang berat sekali, karena memaksa kita untuk mengubah pola hidup dan makan. Di sisi lain kita akan “terjamin” (dengan batasan ‘arti jaminan’ dalam ilmu pengobatan) bisa hidup lebih lama dan sehat. Dengan kemauan keras, hal ini tidak mustahil, terutama untuk mereka yang mau menikmati kebahagiaannya selama hidup. Misi ini tentu harus diusahakan bersama dokter keluarga/spesialis kita yang juga menggunakan target ini sebagai sasaran regimen pengobatannya. Tentu dokter mau tak mau harus menyediakan waktu untuk itu, serta terus memantau ketat perkembangan gula darah pasiennya dalam suasana hidup sehari-hari (tidak perlu di rumah sakit yang artifisial). Sudah tentu kita sendiri dapat memantau kemajuan atau kemundurannya berdasarkan benchmark di atas.
Target yang ditentukan oleh ADA sebenarnya sangat riil dan bisa tercapai karena dewasa ini tersedia obat antidiabetik dengan empat macam cara kerja. Beda dengan beberapa tahun lalu, ketika hal ini sulit dilakukan karena insulin dan obat oral berisiko sangat besar menimbulkan hipoglikemia (kadar gula anjlok mendadak di bawah normal). Nah, beberapa obat relatif baru kini dapat menghindarkan hipoglikemia. Susahnya, hipoglikemia biasanya disusul dengan hiperglikemia karena penderita hipoglikemia akan minum/makan yang manis-manis. Hal ini tentu menimbulkan masalah kontrol. Belum lagi efek over-correction oleh insulin maupun obat oral yang dosisnya ditambah karena fenomen ini.

Kadar gula sebaiknya tak boleh naik-turun seperti yoyo, karena bisa berakibat fatal. Jadi bagi penderita diabetes sebaiknya periksa gula darah secara teratur untuk mengevaluasi pengobatan sehingga dapat mencegah komplikasi-komplikasi akibat diabetes.

No comments: